Senin, 06 Agustus 2012

Ironis. Rating Game Nyaris Tak Pernah Digubris


Ironis. Rating Game Nyaris Tak Pernah Digubris
Pernahkah terpikirkan oleh Klikers, bahwa semua rating-rating yang dikeluarkan oleh badan pemerintahan di negara manapun itu, tidak pernah benar-benar berfungsi? Pemikiran seperti ini pastinya sering timbul di benak Klikers. Pasalnya, walaupun sudah dijelaskan bahwa sebuah game ataupun film ini hanya diperbolehkan untuk ditonton kalangan tertentu, apakah itu menghalangi seseorang (tak peduli umurnya) untuk menonton ataupun memainkannya? Justru sebaliknya, mereka malah semakin antusias dan penasaran ingin mengetahui, apa sebenarnya isi film ataupun game tersebut, sampai-sampai diberikan rating tertentu.
Agak ironis memang, mengingat ada banyak sekali hukum-hukum yang ditulis mengenai semua peraturan untuk memainkan ataupun menonton sesuatu, yang pada buntut-buntutnya, hanya diabaikan begitu saja. Tidak usah jauh-jauh. Klikers sebagai seorang pemuda/pemudi yang bertanggung jawab, pastinya sudah berulang kali menonton film-film untuk orang dewasa yang dilengkapi dengan unsur seksualitas yang sangat kental. Hayooo ngakuuu~~ XD
Jelas sekali bukan, kalau di cover filmnya itu (atau bahkan sudah muncul suara hati dalam benak kalian sendiri) disebutkan kalau film ini bukan tontonan yang layak bagi kalian? Kalaupun ingin menonton, harus dengan bimbingan orang tua. Tapi coba diperhatikan. Apakah ada yang benar-benar memperhatikan hal seperti itu lagi sekarang ini? Biarpun orang tua terus mengatakan bahwa mereka sudah berusaha untuk menjaga supaya anak-anak kesayangan mereka itu tidak keracunan acara televisi, game ataupun film yang tidak tepat bagi mereka, toh pada akhirnya mereka tetap bisa menontonnya.
Sebuah hasil survey terbaru dari Digital Spy pun bisa dijadikan sebagai sebuah bukti (hasil survey ini adalah untuk kalangan gamer saja). Disebutkan dalam sebuah poling yang baru saja diselenggarakan bahwa hanya sekitar 29% orang saja yang benar-benar memperhatikan angka ataupun rating yang tertera di sampul sebuah game ataupun film. Sedangkan sisanya yang 71%, malah cenderung tidak memperhatikan angka ataupunrating yang diberikan dan mereka hanya membelinya karena tertarik saja.
Jadi, pertanyaan kami pun mulai mengemuka. Benarkah peraturan rating yang diberikan di seluruh dunia ini benar-benar manjur? Biarpun sudah ada negara yang super ketat dengan peraturan seperti itu (contohnya saja Inggris yang baru saja menerapkan hukum pidana bagi para penjual yang membandel dengan tetap menjual semua jenis game tanpa mempedulikan rentang umur), tetap saja game tersebut bisa dengan ajaibnya tiba di tangan sang pembeli. Caranya? Antara membeli diam-diam ataupun dengan cara meminjam dari teman-temannya. Apakah ada yang bisa mencegah itu?
Lalu ada juga kasus dimana sang gamer sendiri tidak tahu menahu apa sebenarnya isi sebuah game ataupun film yang mereka mainkan ataupun tonton. Mereka hanya mencoba mendengarkan masukan dari orang lain yang sudah menonton dan mereka langsung memutuskan untuk ingin melihatnya hanya karena ada rekomendasi dari sang teman. Beruntung kalau filmnya itu memang film yang benar-benar bagus. Tapi bagaimana kalau sebuah film atau game tersebut disebut bagus karena beberapa faktor yang sesungguhnya bisa merusak moral seseorang? Sebut saja dari faktor kebrutalan dan kesadisan dalam pembunuhan dan bahkan faktor seksualitas sekalipun. Bukankah ini malah menjadi sebuah ironi tersendiri akan definisi sebuah film yang "bagus"? Bagaimana menurut Klikers?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar